Now this is another author, aleeeeee. Yey. Tanpa panjang kata apalagi panjang anu, cekidot aja lanjutan cerita bikinan gue. Mungkin agak beda format karena gue akan lebih nyaman nulis cerita dengan style gue sendiri :3. Kalo agak absurd dan gak lucu maapin aja ya *salaman* soaolnya gue bikin sambil nonton Indonesian idol heheheheh. Lafyu all.
Episode 3
Ulasan: Alya sama Cacan pergi ke Mantri Rajib buat ngobatin Puti yang kena sakit parah: panu. Tapi, ternyata Pak Mantri bilang Puti sakit parah.
Apa yang parah???
Mantri Rajiv menarik napas panjang. “Sediakan saya kopi, selada, jagung, dan bawang,” katanya singkat, sangat misterius.
Alya dan Cacan saling bertatap tatapan. “Ha?”
“Sekarang.”
Alya dan Cacan buru-buru lompat dan sprint ke Alfa Midi di sebelah kuburan yang ada di sebelahnya rumah sakit di sebelahnya sekolah sebelahnya tempat praktek Mantri Rajiv. 59 detik kemudian mereka kembali.
“Ini Jiv,” kata Alya. “Jiv tolong banget sembuhin Puti, Jiv. Gue butuh dia Jiv.”
Mantri Rajiv menunduk sebentar, “tenang,” katanya dengan suara mendesah pelan. “Syarat pertama sudah kalian penuhi. Kemungkinan dia sembuh sudah naik menjadi 56 persen.”
Mantri Rajiv menatap Alya dan Cacan. Sekarang, kalian bawa Puti keluar sebentar. Beri saya waktu setengah jam.
Cacan melirik ke arah puti yang nafasnya sudah kayak anak paskib: kiri-kanan-kiri-kanan. Cacan menggebrak meja berisi sesajen. “dafuq. DIA UDAH SEKARAT, JAMET! Lo mau apa lagi sekarang? Setengah jam bisa ngabisin dia!”
Rajiv terdiam. Ia mengeluarkan sebotol saus thousand islands. “Gue mau sarapan.”
“….”
***
“Cacan dia udah mau mati can… Cacan Cacan gimana Caaaannnn??” Alya panik. Idungnya makin mendelep.
“Tenang Al tenang,” Cacan nyoba nenangin Alya. Dia ikutan panik. Matanya makin ilang. “Pencet idungnya Al pencet idungnya coba.”
Alya mencet idungnya Puti yang mancung.
“AH! CAN!”
“APA APA? ADA PERUBAHAN?”
“Komedonya keluar semua.”
“Al…. jijik…”
Tiba tiba kepala Mantri Rajiv nongol di gorden. “Bawa pantatnya Puti masuk.”
Alya dan Cacan dua cewek strong nan eksotis menggotong gotong Puti ke dalam ruangan praktek, gak lupa sama pantat bohainya juga.
“Terakhir,” kata Mantri Rajiv. “Alya kamu harus nazar atas kesembuhannya dia.”
“Kenapa…gue??” tanya Alya bingung. “Kenapa gak Cacan?”
“Karena…. Karena….” “……Karena ku sanggup, walau ku tak mau….” Tiba tiba hp Rajiv bunyi. Ia mengangkat telepon.
“Ayo al, gausah buang buang waktu,” bisik Cacan.
“Tapi kenapa gue?”
“Mana gue tau, tapi daripada dia metong?”
Rajiv selesai bicara dan mematikan hpnya.
“Jadi, gimana?”
“Oke, bang mantri, nazar saya… nazar saya….” Alya bingung. “nazar gue….nazar gue… gue harus nazar apa?? Nazar… KALO GUE NIKAH SAMA PUTI, DAN GUE DAPET ANAK KEMBAR DUA DUANYA COWOK AKAN GUE KASIH NAMA MAHRONI TASROJI.”
Mantri Rajiv keselek. Cacan keselek.
“dafuq.”
“Nazar adalah nazar, Alya. Kamu harus selalu ingat nazar kamu.”
Posisi Puti tengkurep.
Rajiv diem. Alya sama Cacan apalagi. Rajiv baca mantra. Cacan baca doa. Alya baca kamasutra.
Tiba tiba Rajiv berdiri.
“Mbak mbak mundur, saya menemukan aura siluman jamur krispi penyebab panu di sekitar sini. Ternyata Puti kesurupan siluman jamur krispi.”
Ia menangkap angin dari depan perutnya, mendorong ke kepalanya. Ia menangkap aura api dari sekelilingnya, membentuk bola dari tangannya dan membaca mantra “KAAAAA-MEEEEEE-GAAAAAAAAAA-MEEEEEEEEEEEEH-HAAAAAAAAAAACK!” Rajiv menabok tengkuk Puti, tempat kejadian perkara panu.
Seketika puti terlompat, “HEYAAAA!!!” teriaknya. Dia lompat, lompat lagi, lompat ke belakang, nendang ke sana kemari, lompat lagi yang terakhir, gak sengaja nimpa punggungnya Rajiv. Rajiv jatoh. Kakinya nekuk.
Puti bangun. “Ada apa ini? Apa salah saya?”
Alya bangun. Terus meluk….Cacan. “Cacan dia masih idup!”
Cacan ngeluarin kertas sama pulpen dari tasnya. “Bang Mantri, ini saya minta resep sama diagnosa penyakitnya ya, biar duitnya bisa ditebus ke Pak Laose Ahong.”
Mantri Rajiv berdiri. Tapi jatoh lagi.
“Ah, kaki saya patah!”
Alya, Cacan, dan Puti melotot. “Rajiv pencot!”
*To be continued*
0 comments: